
Tiup lilinnya...
tiup lilinnya...
tiup lilinnya tak ada kuenya...
tak ada kuenya...
tak ada kuenya...!!!
buka topeng senyummu MONA!Sudah lusuh...
Kami cuma dua titik air sibuk
Berkelana menjadi uap, awan, salju, hujan
Akan berkumpul jika bertemu dengan Samudra
Ibu kami

detik-detik jantung
detak detak jam
Tuhan menanamkan jamtung di tiap-tiap hidup
suatu saat akan berhenti berdetik...
Mataku lebih banyak jatah belakangnya saat membantunya memasak
"Kau selalu berfikir bahwa kau tak penting bagiku
kukira kau memang ingin diperlakukan demikian."
itu punggung Makku
* * *
Dilambatkan dengan ritual membungkus kaki
selalu, sebelum keluar rumah
"Lelaki hanyalah lelaki, bukan malaikat."
wanita sedarahku memantraiku demikian
* * *
Seorang perempuan renta memiliki waktu tersita banyak
dipeluk erat tempat tidurnya
"Tak mampu menjagamu lagi, maka berdoalah
Dia lebih mengawasimu!"
minyak gosok dan balsem bergantian jadi parfumnya
* * *
Matanya mengaum keras seperti
lega sehabis balapan tanpa lawan di jalan raya
"Kau seperti motor-motor payah yang kulombai
banyak juniormu sudah melarikan
jatah sarjananya masing-masing
kau?
kapan?"
berikutnya kakak iparku itu
melanjutkan perang dengan keyboard
* * *
Lelaki hampir setengah tahun
bisa duduk dengan bantuan dipangku
"Baru bisa menangis dan tertawa ke arahmu
sesekali menghadiahimu cairan hangat
yang mengalir dari kelaminku."
senyumnya tetap akan membahagiakan
walau tanpa kehadiran gigi memagari mulutnya
matanya hilang
saking sipitnya; mata Umminya!
'Takdir tak butuh dipedebatkan
Kita hanya wajib menjalaninya'
Begitu kalimatmu memotong argumenku
Alangkah semena-menanya Tuhan
Ingin kutantang Dia pertanyaan
Oe...Tuhan...!
apakah air matanya ibadah bagimu?
apakah kau sudah nasibkan
dia beribadah dengan menangis?
Padamu hanya kupesankan
sediakan selalu minum
hati-hati dehidrasi

Memang, ada seliter kesedihan mengikuti kematian Ikeuchi Aya
namun nyaris tak tertetas air mata untukmu
karena sebenarnya kesedihan paling pilu tak terwakilkan
air mata dan raung-raung
Meninggalkan memang susah untuk melakukannya
tapi ditinggalkan ternyata lebih sukar mengobatinya
Asou, maukah kau menemaniku sekali-kali
belajar meninggalkan?*Asou Haruto (diperankan Nishikido Ryo), karakter fiktif dari Drama ONE LITRE OF TEARS (Ichi Ritoru no Namida) yang diangkat dari diary seorang gadis bernama Kito Aya, bercerita tentang semangat kebertahanan hidupnya melawan penyakitnya. Asou adalah inisiatif Ibu Aya. Beliau menginginkan karakter Asou dihadirkan sebagai teman dekat Aya, yang tak 'terlalu' diperdulikan oleh Aya namun dia selalu ada untuk Aya bahkan sampai beberapa tahun setelah Aya meninggal. "Asou kau sangat nyata bagiku walau faktanya kau sekedar rekaan. Atau... malah aku yang fiktif (juga)?" =p