Rabu, 14 April 2010

KACANG SEANDAINYA

Seorang gadis mengusir konsentrasiku membaca novel romantis
mendudukkan dirinya di bangku depanku
tiga bungkus snack kacang dia tebar di meja

Bungkus pertama dibuka...
bulatan kacang itu dia pandang kasihan
sedang berdukakah gerangan karena sebentar lagi
kacang itu dimakamkan dalam perutnya?

Dia berhasil memaksa diriku menutup novel yang kubaca
atraksi ini harus dinikmati, ya!
karena muka berdukanya segera terganti
wajah seperti memendam kesumat

Kacang satu-persatu dikunyahnya kejam
matanya berkaca penuh benci
dibalikkannya bungkus kacang, jatuh sebuah undian
sebuah pena dirampasnya segera dari kantongnya

Dia menulis di kertas undian pertama
bagiku tak penting, saya masih ingin menontonnya
namun, diselipkannya kertas itu di halaman pertama
novel yang kubaca

Dia tahu saya tak tertarik membacaya
karena atraksi bungkusan kedua telah dimulai
kekecewaan berat terbaca ketika bungkus kedua ludes
ditemukannya kertas undian kedua
Lagi, dia menulis
pun diselipkan ke novelku

Masih tersisa satu bungkusan
segera terjamah untuk dikunyah dengan jahat
kupon undian lagi
ditulisi, diselipkan lagi

Dia mempertemukan kedua tangannya, membersihkan sekadarnya
ada pesan samar tersampaikan oleh matanya
saat sebuah senyum sinis merasuki bibirnya
disusul sebuah sendawa puas

Gadis itu pergi meninggalkanku dengan tiga sampahnya
dan....
meniggalkan tiga kupon undian!

Kupon undian I
Kacang ini dicabik oleh gigiku, kau tak dengar badan mereka remuk?
Aww, pasti sakit!

Kupon undian II
Kemudian mereka diulek-ulek dalam usus. Hancurrr leburrr...
Huahahahaha, rasakan!

Kupon undian III
Besok pagi saya akan ke WC, mereka berkentut-kentutan minta dikeluarkan
tak tahan disiksa dalam perutku.
Sial lu, lu semua hanya TAI....

Sayang Gadis, kacang hanya kau pura-purakan cinta







Tidak ada komentar: